Kuliah Tamu di STIKes ICsada, Asuhan Keperawatan Tuberculosis dan Terapi Komplementer Pasien HIV/AIDS

stikesicsada.ac.id | Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Husada Bojonegoro (STIKes ICsada) hari ini rabu 15/Mei/2019 Pukul : 08.00 s/d 10.00WIB melaksanakan kuliah tamu di ruang B. Neuman hadir sebagai nara sumber utama NS. Dian Rahmadin, S.Kep., M.Kep Owner Klinik Instanzahra Husada.

pada kuliah tamu hari ini para mahasiswa di berikan pengetahuan serat penyampain tentang bagaimana menangani para pasien yang menderita Tuberculosis (TB) dan Terapi terhadap pasien penderita HIV/AIDS. hal ini di mungkinkan karena di era sekarang ini banyak dari masyarakat menderita (TB) dan gaya hidup bebas yang banyak di lakukan oleh masyarakat pada umunya di era ini, dan inilah yang membuat banyaknya masyarakat terjangkit HIV/AIDS yang tidak memandang usia muda maupun tua.

maka dari kuliah ini penekanana terhadap “Asuhan Keperawatan Tuberculosis & Terapi Komplementer Pasien HIV/AIDS” terus di tekankan kepada para mahasiswa STIKes ICsada diharapkan kedepanya para lulusan dapat bekerja menangani pasien dengan kompeten.

“Ketika seseorang terkena TBC laten, bakteri TBC sudah mengggerogoti paru-paru. Untuk memastikan penderita HIV terhindar dari TBC, ia harus menjalani pemeriksaan ini setiap tahun. Bila penderita HIV positif TBC, ia membutuhkan pengobatan secara rutin”. ( Ujar Nara Sumber

“Kalau penderita HIV kena TBC ya harus diobati dua-duanya (HIV dan TBC). Tapi kalau bisa TBC-nya didahulukan (diobati dulu),” jelas Ns. Andi Rahmadin, S.Kep., M.Kep, memberikan penjelasan tentang obat sesuai dengan kondisi pasien. Pengobatan yang bisa diberikan dengan rifampsisn, isoniazid, pirazinamid atau etambutol selama enam bulan. Seluruh jenis obat itu termasuk obat antibiotik untuk melawan bakteri.

Obat antibiotik TBC juga berfungsi mencegah dan mengobati TBC. Efek obat TBC pada tubuh bisa dipantau selama dua minggu. Dalam pemantauan ini pasien dapat dilihat apakah obat TBC menimbulkan efek samping atau tidak.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2018 ini diikuti pasien HIV yang sedang menjalani pengobatan ART di Bugando Medical Centre, bagian barat laut Tanzania. Hasil penelitian, prevalensi pasien HIV yang minum obat ART untuk mengembangkan TBC bervariasi antara 2,5–30,1 persen.

“Jadi, HIV dan TBC harus dua-duanya diobati. Yang harus diperhatikan ada interaksi obat dan efek samping saat minum obat TBC dan HIV. Minum obat TBC itu kan berat buat liver. Sama juga dengan obat HIV yang juga berat untuk liver,”

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*